Selasa, 09 Oktober 2012

askep nyeri

BAB 1
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Definisi
Nyeri adalah perasaan yang tidak nyaman yang sangat subjektif dan hanya orang yang mengalaminya yang dapat menjelaskan dan mengevaluasi perasaan tersebut. Secara umum, nyeri dapat didefinisikan sebagai perasaan tidak nyaman, baik ringan maupun berat. Akan tetapi, bias tidaknya nyeri dirasakan dan hingga derajat mana nyeri tersebut mengganggu dipengaruhi oleh interaksi antara system algesia tubuh dan transmisi system saraf serta interpretasi stimulus.

Nosisepsi
System saraf perifer terdiri atas saraf sensorik primer yang khusus bertugas mendeteksi kerusakan jaringan dan membangkitkan sensasi sentuhan, panas, dingin, nyeri, dan tekanan. Reseptor yang bertugas merambatkan sensasi nyeri disebut nosiseptor. Nosiseptor merupakan ujung-ujung saraf perifer yang bebas dan tidak bermielin atau sedikit bermielin. Reseptor nyeri tersebut dapat dirangsang oleh stimulus mekanis, suhu, atau kimiawi. Sedangkan proses fisiologis terkait nyeri disebut nosisepsi. Proses tersebut terdiri atas empat fase, yaitu :
1.      Tranduksi
Pada fase tranduksi, stimulus atau rangsangan yang membahayakan memicu pelepasan mediator biokimia yang mensesitisasi nosiseptor.
2.      Transmisi
Fase transmisi nyeri terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama, nyeri merambat dari serabut saraf perifer ke medulla spinalis. Dua jenis serabut nosiseptor yang terlibat dalam proses tersebut adalah serabut C, yang mentransmisikan nyeri tumpul dan menyakitkan, serta serabut A-Delta yang mentransmisikan nyeri yang tajam dan terlokalisasi. Bagian kedua adalah transmisi nyeri dari medulla spinalis menuju batang otak dan thalamus melalui jaras spinotalamikus (spinothalamic tract atau STT). STT merupakan suatu system diskriminatif yang membawa informasi mengenai sifat dan lokasi stimulus ke thalamus. Pada bagian ketiga, sinyal tersebut diteruskan ke korteks sensorik somatic tempat yang dipersepsikan. Impuls yang ditransmisikan melalui STT mengaktifkan respons otonomi dan limbic.
3.      Persepsi
Pada fase ini, individu mulai menyadari adanya nyeri. Tampaknya persepsi nyeri tersebut terjadi di struktur korteks sehingga memungkinkan munculnya berbagai strategi perilaku kognitif untuk mengurangi komponen sensorik dan afektif nyeri.
4.      Modulasi
Fase ini disebut juga system desenden. Pada fase ini, neuron di batang otak mengirimkan sinyal-sinyal kembali ke medulla spinalis. Serabut desenden tersebut melepaskan substansi seperti opioid, serotonin, dan norepinefrin yang akan menghambat impuls asenden yang membahayakan di bagian dorsal medulla spinalis.

Pengalaman nyeri
Pengalaman nyeri seseorang dipengaruhi beberapa hal, yaitu :
1.      Arti nyeri bagi individu
Makna nyeri antara lain berbahaya atau merusak, menunjukkan adanya komplikasi, memerlukan penyembuhan, menyebabkan ketidak mampuan, merupakan hukuman akibat dosa, merupakan sesuatu yang harus ditoleransi. Factor yang mempengaruhi makna nyeri bagi individu antara lain usia, jenis kelamin, latar belakang social budaya, lingkungan, pengalaman nyeri sekarang dan masa lalu.
2.      Persepsi nyeri
Persepsi nyeri, tepatnya pada area korteks, muncul akibat stimulus yang ditransmisikan menuju jaras spinotalamikus dan talamiko kortikalis. Persepsi nyeri ini bersifat objektif, sangat kompleks, dan dipengaruhi factor-faktor yang memicu stimulus bosiseptor dan transmisi impuls nosiseptor, seperti daya reseptif dan interpretasi kortikal. Persepsi nyeri dapat berkurang atau hilang pada periode stress berat atau dalam kedaan emosi. Kerusakan pada ujung saraf dapat memblok nyeri dari sumbernya.
3.      Toleransi terhadap nyeri
Toleransi terhadap nyeri terkait dengan intensitas nyeri yang membuat seseorang mampu menahan nyeri sebelum mencari pertolongan. Tingkat toleransi yang tinggi berarti bahwa individu mampu menahan nyeri yang berat sebelum ia mencari pertolongan. Factor-faktor yang mempengaruhi toleransi terhadap nyeri yaitu :
Toleransi nyeri
Meningkat
Menurun
Alcohol
Obat-obatan
Hypnosis
Panas
Gesekan atau garukan
Pengalihan perhatian
Kepercayaan yang kuat
Capai atau kelelahan
Marah
Kebosanan
Cemas
Nyeri yang kronis
Sakit atau penderitaan
4.      Reaksi terhadap nyeri
Setiap orang memberikan reaksi yang berbeda terhadap nyeri. Ada yang menhadapi rasa nyeri dengan perasaan takut, cemas, dan gelisah, ada pula yang menanggapinya dengan perasaan optimis dan penuh toleransi. Factor yang mempengaruhi reaksi nyeri, yaitu :
a.       Makna nyeri bagi individu
b.      Tingkat persepsi nyeri
c.       Pengalaman masa lalu
d.      Nilai budaya
e.       Harapan social
f.       Kesehatan fisik dan mental
g.      Sikap orang rtua terhadap nyeri
h.      Lokasi nyeri
i.        Perasaan takut dan cemas
j.        Upaya untuk mengurangi respons terhadap stressor
k.      Usia

B.     Jenis dan Bentuk Nyeri
Jenis nyeri
Ada tiga klasifikasi nyeri :
1.      Nyeri perifer
Nyeri perifer ada tiga macam, yaitu :
a.       Nyeri superficial, yaitu nyeri yang muncul akibat rangsangan pada kulit dan mukosa.
b.      Nyeri visceral, yaitu rasa nyeri yang muncul akibat stimulai pada reseptor nyeri di rongga abdomen, cranium, dan toraks.
c.       Nyeri alih, yaitu nyeri yang dirasakan pada daerah lain yang jauh dari jaringan penyebab nyeri.
2.      Nyeri sentral
Nyeri yang muncul akibat stimulasi pada medulla spinalis, batang otak, dan thalamus.
3.      Nyeri psikogenik
Nyeri yang tidak diketahui penyebab fisiknya. Dengan kata lain, nyeri ini timbul akibat pikiran si penderita sendiri. Seringkali nyeri ini muncul karena factor psikologis.
Bentuk nyeri
Secara umum, bentuk nyeri terbagi atas nyeri akut dan nyeri kronis.
1.      Nyeri akut
Nyeri ini biasanya berlangsung tidak lebih dari 6 bulan. Biasanya gejala mendadak dan penyebab serta lokasi nyeri sudah diketahui. Nyeri akut ditandai dengan peningkatan tegangan otot dan kecemasan yang keduanya meningkatkan persepsi nyeri.
2.      Nyeri kronis
Nyeri ini biasanya berlangsung lebih dari 6 bulan. Sumber nyeri bias diketahui ataupun tidak. Nyeri cenderung hilang dan timbul dan biasanya tidak dapat disembuhkan. Penginderaan nyeri menjadi lebih dalam sehingga penderita sulit untuk menunjukkan lokasinya. Dampak dari nyeri kronis antara lain penderita mudah teringgung dan sering mengalami insomnia, akibatnya mereka kurang perhatian, sering merasa putus asa, dan terisolir dari kerabat dan keluarga. Nyeri kronis biasanya hilang timbul pada periode waktu tertentu. Ada kalanya penderita terbebas dari rasa nyeri.
Factor yang mempengaruhi nyeri
1.      Etnik dan nilai budaya
Latar belakang etnik dan budaya merupakan factor yang mempengaruhi reaksi terhadap nyeri dan ekspresi nyeri. Contohnya, individu dari budaya tertentu cenderung ekspresif dalam mengungkapkan nyeri, sedangkan individu dari budaya lain justru lebih memilih menahan perasaan mereka dan tidak ingin merepotkan orang lain.
2.      Tahap perkembangan
Usia dan dan tahap perkembangan  seseorang merupakan variable penting yang akan mempengaruhi reaksi dan ekspresi terhadap nyeri. Dalam hal ini anak-anak cenderung kurang mampu mengungkapkan rasa nyeri dibandingkan orang dewasa, dan kondisi ini dapat menghambat penanganan nyeri untuk mereka. Di sisi lain prevalensi nyeri pada individu lansia lebih tinggi karena penyakit akut ataupun kronis yang mereka derita. Walaupun ambang batas nyeri tidak berubah karena penuaan, tetapi efek analgesic yang diberikan menurun karena perubahan fisiologis yang terjadi.
3.      Lingkungan dan individu pendukung
Lingkungan yang asing, tingkat kebisingan yang tinggi, pencahayaan, dan aktifitas yang tinggi di lingkungan tersebut dapat memperberat nyeri. Selain itu dukungan dari keluarga dan orang terdekat menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi persepsi nyeri individu.
4.      Pengalaman nyeri sebelumnya
Pengalaman masa lalu juga berpengaruh terhadap persepsi nyeri individu dan kepekaannya terhadap nyeri. Selain itu keberhasilan atau kegagalan metode penanganan nyeri sebelumnya juga berpengaruh terhadap harapan individu pada penanganan nyeri saat ini.
5.      Ansietas dan stress
Ansietas sering kali menyertai peristiwa nyeri yang terjadi. Ancaman yang tidak jelas asalnya dan ketidakmampuan mengontrol nyeri atau peristiwa di sekelilingnya dapat memperberat persepsi nyeri. Sebaliknya, individu yang percaya bahwa mereka mampu mengontrol nyeri yang mereka rasakan akan mengalami penurunan rasa takut dan kecemasan yang akan menurunkan persepsi nyeri mereka.
Cara mengukur intensitas nyeri
Skala nyeri menurut Hayward
Skala
Keterangan
0
Tidak nyeri
1-3
Nyeri ringan
4-6
Nyeri sedang
7-9
Sangat nyeri, tetapi masih dapat dikontrol dengan aktifitas yang biasa dilakukan
10
Sangat nyeri dan tidak bias dikontrol
Skala nyeri menurut McGill
Skala
Keterangan
1
Tidak nyeri
2
Nyeri sedang
3
Nyeri berat
4
Nyeri sangat berat
5
Nyeri hebat

C.    Pengkajian
Pengkajian nyeri yang akurat penting untuk upaya pelaksanaan nyeri yang efektif. Karena nyeri merupakan pengalaman yang subjektif dan dirasakan secara berbeda pada masing-masing individu, maka perawat perlu mengkaji semua factor yang mempengaruhi nyeri seperti factor fisiologis, psikologis, perilaku, emosional, dan sosiokultural. Pengkajian nyeri terdiri atas dua kompenen utama yaitu :
a.       Riwayat nyeri untuk mendapatkan data dari klien.
b.      Observasi langsung pada respons perilaku dan fisiologis klien.
Tujuan pengkajian adalah untuk mendapatkan pemahaman objektif terhadap pengalaman subjektif.
Mnemonic untuk pengkajian nyeri.
P
Provoking atau pemicu yaitu factor yang memicu timbulnya nyeri
Q
Quality atau kualitas nyeri
R
Region atau daerah perjalanan ke daerah lain
S
Severity atau keganasan, yaitu intensitasnya
T
Time atau waktu, yaitu serangan, lamanya, kekerapan, dan sebab

Riwayat nyeri
Secara umum pengkajian riwayat nyeri meliputi beberapa aspek, yaitu :
1.      Lokasi
Untuk menentukan lokasi nyeri yang spesifik, minta klien menunjukkan area nyerinya. Pengkajian ini bisa dilakukan dengan bantuan gambar tubuh. Klien bisa menandai bagian tubuh yang mengalami nyeri. Ini sangat bermanfaat, terutama untuk klien yang memiliki lebih dari satu sumber nyeri.
2.      Intensitas nyeri
Penggunaan skala intensitas nyeri adalah metode yang mudah dan terpercaya untuk menetukan intensitas nyeri pasien. Skala nyeri yang paling sering digunakan adalah rentang 0-5 atau 0-10. Angka 0 menandakan tidak nyeri sama sekali dan angka tertinggi menandakan nyeri yang hebat.
3.      Kualitas nyeri
Terkadang nyeri bisa terasa seperti “dipukul-pukul” atau “ditusuk-tusuk”. Perawat  perlu mencatat kata-kata yang digunakan pasien untuk menggambarkan nyerinya sebab informasi yang akurat dapat berpengaruh besar pada diagnosis dan etiologi nyeri serta pilihan tindakan yang diambil.
4.      Pola
Pola nyeri meliputi waktu awitan, durasi, dan kekambuhan atau interval nyeri. Perawat perlu mengkaji kapan nyeri dimulai, berapa lama nyeri berlangsung, apakah nyeri berulang, dan kapan nyeri terakhir muncul.
5.      Gejala yang menyertai
Gejala ini meliputi mual, muntah, pusing, dan diare. Gejala itu bisa disebabkan oleh awitan nyeri atau oleh nyeri itu sendiri.
6.      Factor presipitasi
Terkadang aktifitas tertentu dapat memicu munculnya nyeri, seperti aktifitas yang berta dapat menimbulkan nyeri dada. Selain itu factor lingkungan, stressor fisik, dan emosional juga dapat memicu nyeri.
7.      Pengaruh pada aktifitas sehari-hari
Dengan mengetahui sejauh mana nyeri mempengaruhi aktifitas harian klien akan membantu perawat memahami perspektif klien tentang nyeri. Beberapa aspek kehidupan yang perlu dikaji terkait nyeri adalah tidur, nafsu makan, konsentrasi, pekerjaan, hubungan interpersonal, hubungan pernikahan, aktifitas di rumah, aktifitas di waktu senggang, serta status emosional.
8.      Sumber koping
Setiap individu memiliki strategi koping yang berbeda dalam menghadapi nyeri. Strategi tersebut dapat dipengaruhi oleh pengalaman nyeri sebelumnya atau pengaruh agama atau budaya.
9.      Respons afektif
Respons afektif klien terhadap nyeri bervariasi, bergantung pada situasi, derajat dan durasi nyeri, interpretasi tentang nyeri, dan banyak factor lain. Perawat perlu mengkaji adanya perasaan ansietas, takut, lelah, depresi, atau perasaan gagal pada diri pasien.
Observasi respons perilaku dan fisiologis
Banyak respons non verbal yang bisa dijadikan indicator nyeri. Salah satunya yang paling utama adalah ekspresi wajah. Perilaku seperti menutup mata rapat-rapat atau membuka mata lebar-lebar, mengigiti bibir bawah, dan seringai wajah dapat mengindikasikan nyeri. Perilaku lain yaitu vokalisasi, immobilisasi bagian tubuh yang mengalami nyeri, gerakan tubuh tanpa tujuan, dll. Sedangkan respons fisiologis bergantung pada durasi dan sumber nyeri. Pada awal awitan nyeri akut, respons fisiologis dapat meliputi peningkatan tekanan darah, nadi, dan pernapasan, diaphoresis, serta dilatasi pupil akibat terstimulasinya system saraf simpatis. Akan tetapi, jika nyeri berlangsung lama, dan saraf simpatis telah beradaptasi, respons fisiologis tersebut mungkin akan berkurang atau bahkan tidak ada. Karenanya, perawat penting untuk mengkaji lebih dari satu respons fisiologis sebab bisa terjadi respons tersebut merupakan indicator yang buruk untuk nyeri.

Penetapan diagnosis
Menurut NANDA (2003), diagnosis keperawatan untuk klien yang mengalami nyeri atau ketidaknyamanan adalah :
1.      Nyeri akt
2.      Nyeri kronis
Saat menuliskan pernyataan diagnostic, perawat harus menyebutkan lokasinya. Lebih lanjut, karena nyeri dapat mempengaruhi banyak aspek fungsi individu, kondisi tersebut pula menjadi etiologi untuk diagnosis keperawatan lain seperti ketidakefektifan bersihan jalan napas, ansietas, ketidakefektifan koping, dll.
D.    Perencanaan dan Implementasi
Tujuan asuhan keperawatan untuk klien yang mengalami ketidaknyamanan atau nyeri bervariasi, bergantung pada diagnosis dan batasan karakteristiknya.
1.      Nyeri akut
Yang berhubungan dengan :
a.       Trauma pada perineum selama persalinan dan pelahiran
b.      Trauma jaringan dan reflex spame otot, sekunder akibat gangguan musculoskeletal, gangguan visceral, kanker, gangguan vascular
c.       Inflamasi
d.      Efek kanker
e.       Kram abdomen, diare, muntah, sekunder akibat (gastroenteritis, influenza, ulkus lambung)
f.       Inflamasi dan spasme otot polos, sekunder akibat (batu ginjal, infeksi pencernaan)
g.      Trauma jaringan dan spasme otot reflex, sekunder akibat (pembedahan, kecelakaan, terbakar, tes diagnostik)
h.      Demam
i.        Respons alergi
j.        Iritan kimia

Kriteria hasil
Individu akan menyampaikan kepuasan setelah tindakan pereda nyeri yang diberikan yang ditandai dengan (sebutkan)

Intervensi umum
1.      Kaji factor yang dapat menurunkan toleransi nyeri.
2.      Kurangi atau hilangkan factor yang dapat meningkatkan nyeri.
3.      Kolaborasikan bersama pasien untuk menentukan metode mana yang dapat dipergunakan untuk mengurangi intensitas nyeri.
4.      Beri pereda nyeri yang optimal bersama analgesic yang diresepkan.
5.      Kaji respon pasien terhadap obat-obat pereda nyeri.
6.      Bantu keluarga berespon positif terhadap pengalaman nyeri pasien.
7.      Dorong klien untuk mendiskusikan nyeri yang dialami

Rasional
1.      Jika klien harus meyakinkan tenaga kesehatan bahwa dia merasa nyeri, kecemasannya akan semakin meningkat dan akan meningkatkan persepsi nyerinya.
2.      Penggunaan metode pereda nyeri noninvasive dapat meningkatkan efek terapeutik obat-obat pereda nyeri.
3.      Tidur yang tidak mencukupi dapat menurunkan kemampuan individual untuk menoleransi nyeri dan menguras energy yang mereka butuhkan untuk berpartisipasi dalam kegiatan social.
4.      Penatalaksanaan nyeri seharusnya dilakukan secara agresif dan individual untuk menhilangkan nyeri yang tidak perlu. Salah satunya dengan membri obat sesuai jadwal pada periode awal pascaoperasi bukan memberikannya pada saat dibutuhkan.
5.      Berbagai metode perilaku bertujuan memodifikasi reaksi fisiologis terhadap nyeri. Contoh metode tersebut yaitu relaksasi, meditasi, terapi music, hipnotis, dan umpan balik biologis.
6.      Relaksasi dan imajinasi terbimbing cukup efektif dalam mengatasi nyeri, yakni dengan meningkatkan perasaan control, mengurangi perasaan tidak berdaya dan putus asa, menjadi metode pengalih yang menenangkan, serta menganggu siklus nyeri-ansietas-ketegangan


DAFTAR PUSTAKA
Roper, N. (2002). Prinsip-prinsip keperawatan. Yogyakarta : Yayasan Essentia Medica.
Tarwoto, W. (2003). Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Jakarta : Salemba     Medica

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar